Tafsir Surat ‘Abasa (Bagian ke-2)

Narasi

Surah ini memiliki sekat-sekat yang kuat, hakikat-hakikat yang besar, sentuhan-sentuhan yang men­dalam, serta unik lukisan-lukisan, bayangan-bayang­an, dan isyarat isyaratnya. Juga memberikan kesan kejiwaan dan musikal yang sama.

 Segmen pertama memecahkan suatu peristiwa tertentu yang terjadi dalam sirah (perjalanan hidup) Rasulullah saw. Yaitu, ketika beliau sedang sibuk mengurusi segolongan pembesar Quraisy yang beliau seru kepada Islam, maka beliau didatangi Ibnu Ummi Maktum, seorang laki-laki tunanetra yang miskin. Karena tidak mengetahui Rasulullah saw. sedang sibuk mengurusi kaum Quraisy itu, maka ia tetap meminta kepada beliau agar mengajarkan kepadanya apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau. Sehingga, Rasulullah saw. merasa tidak se­nang atas kedatangan Ibnu Ummi Maktum, lalu beliau bermuka masam dan berpaling darinya.

Continue reading

Taujuh ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Lc, Alhafizh 15 : Jangan Merasa Takut Terhadap Keadaan Masa Depan

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Ahqaf [46]:13-14)

Bagi pribadi yang sedang mendekatkan diri dengan Al-Qur’an misalnya bertekad menjadi hafidz 30 juz, godaan yang sering menggelayuti adalah kekhawatiran terhadap masa depan, seperti maisyah, walimah, serta pertanyaan-pertanyaan bernada negatif yang lain. Ayat di atas menjelaskan bahwa tidak ada rasa takut dan sedhi bagi manusia yang berada di jalan Allah Swt. Ketika mau menghafal, motivasinya harus jelas dan motivasi itu harus terus diyakini.
Continue reading

Taujih 14 Ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Lc, Al-Hafizh : Berbahagia Jika Kita Bersama Orang-orang Yang Sedikit

“Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan sedikit dari orang-orang generasi terakhir.” (QS. Al-Waqi’ah [56]:10-14)

Kata qaliil (sedikit) di dalam Al-Qur’an banyak ditujukan kepada sekelompok manusia yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang kuat dan keras untuk meningkatkan kualitas hidup, serta bersegera melakukan amal shalih. Contohnya mereka yang beriman kepada Nabi Nuh dan Nabi Musa yang persentase dan jumlahnya sangat sedikit.

Di balik niat untuk hafal 30 juz Al-Qur’an, kita perlu bertekad: “Aku siap bersama orang-orang yang qaliil“. Kita harus sabar, teguh, tak mudah putus asa karena apa yang akan diraih merupakan sesuatu yang besar dan berat perjuangannya dan tidak semua manusia siap untuk melakukannya.

Telah menjadi sunnatullah, bahwa sesuatu yang istimewa itu jumlahnya sedikit. Dari tujuh hari sepekan, hanya Jum’at yang istimewa, dari 12 bulan setahun hanya Ramadhan yang begitu istimewa, dari sekian jenis logam hanya emas yang paling diburu orang. Di balik sedikitnya orang yang siap untuk menghafal Al-Qur’an, kita perlu yakin bahwa kemuliaan dan keistimewaan itu adalah dari Allah Swt, bukan dari diri kita. Ucapan alhul jannah:

“Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga (ini). Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa kebenaran’. Dan diserukan kepaa mereka: ‘Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.”” (QS Al-A’raf [7]:43)

(Ust. Abdul Azis Abdul Ro’uf, Lc)

Taujih 16 Ust. Abdul Azis Abdul Rauf,Alhafizh,Lc : Jangan Suka Memvonis Diri

“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup’. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk hati mereka karen keingkaran mereka. Maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS Al-Baqarah [2]:88)

Sikap suka memvonis diri bertolak belakang dengan tawadlu untuk membuka diri terhadap dakwah. Ketika dakwah Rasulullah ditanggapi kaum Yahudi dengan “Saya tidak mungkin mampu menerima da’wah ini, karena hati saya sudah tertutup” berarti mereka bukan saja jauh dari hidayah Al-Qur’an bahkan Allah Swt melaknat sikap kufur tersebut dan mereka jauh untuk menjadi manusia yang beriman.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an, apapun bentuknya – bertilawah, menghafal, mentadabburkan, mengajarkan atau memahaminya – tanpa didukung oleh keimanan yang memadai akan menyebabkan jiwa merasa berat, susah, repot, dsb. Keimanan yang telah Allah karuniakan kepada kita hendaknya dijadikan modal utama untuk dapat hidup bersama Al-Qur’an.

Ungkapan-ungkapan bernada pesimis yang keluar di alam bawah sadar kita akan menjadi suatu vonis yang “mematikan” dan menjadikan diri kita berada di dalam kondisi kelemahan total. Jangankan untuk melakukan upaya berinteraksi dengan Al-Qur’an, sekedar keinginan saja tidak mungkin terjadi dalam diri kita sekalipun kita sudah beriman.

Kita harus optimis dan membantah ungkapan-ungkapan tersebut agar keluar dari kungkungan ketidakberdayaan diri yang sesungguhnya berasal dari diri kita sendiri. Berikut contohnya:
Continue reading

TAUJIH 13 Ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Alhafizh,Lc : Berlatih dengan Ekstrim

“Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS Al-Insan [76]:26)

Melatih diri untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an membutuhkan upaya-upaya yang ‘ekstrim’. Menurut kita sangat berat, padahal hal tersebut sudah biasa dilakukan para salafush shalih. Contohnya menghafal Al-Qur’an sebanyak enam ribu ayat dihafal luar kepala.

Contoh amalan lain yang dianggap ekstrim oleh manusia sekarang karena jarang dilakukan adalah:
Continue reading

Taujih 12 ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Alhafizh,Lc : Kokohkan Tekad, Jangan Mudah Berubah Pikiran

“………Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya……”(QS Fushshilat [41]:6)

Sikap istiqamah dan istighfar memiliki hubungan yang sangat erat dan saling mempengaruhi. Dalam hal berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya menghafal, sering ada gangguan yang menyebabkan kita berubah pikiran. Tadinya bersemangat dan sangat berkeinginan untuk menghafal Al-Qur’an, tiba-tiba kehilangan daya tarik untuk menyempurnakan keinginan menghafal Al-Qur’an yang selama ini diperjuangkan.

Kiat-kiat agar tak mudah berubah pikiran dan tetap memiliki keinginan yang terus hidup:
Continue reading

Taujih 11 Ust. Abdul Azis Abdul Rauf, Alhafiz, Lc: Jangan Merasa Takut Tidak Kebagian Rezeki

 “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”(QS Adz-Dzariyat [51]:22-23)

Rezeki adalah sumber kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ada sebagian manusia yang walaupun rezekinya pas-pasan namun kehidupannya bahagia dan tenang (sakinah) karena mereka memiliki pemahaman yang benar tentang rezeki. Sementara tidak sedikit yang sebaliknya, gelisah, frustasi, bahkan mengalami penyimpangan aqidah karena kesalahan pemahaman tentang hakikat rezeki.

Penjelasan mengenai rezeki dari Al-Qur’an:
Continue reading

Taujih 10 : Ust.Abdul Azis Abdul Rouf, Lc : Meraih Cita-cita dari yang Terdekat

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” (QS Al-Baqarah [2]:201)

Hakikat orientasi kehidupan seorang muslim tidak terlepas dari dua cita-cita besar di atas walaupun akhirat harus lebih diutamakan.

“Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (QS Al-A’la [87]:17)

Manusia memiliki sifat tergesa-gesa atau senang dengan yang disegerakan. Misalnya segera menerima gaji setelah bekerja, segera ada apresiasi dari lingkungan setelah beramal shalih, segera mendapatkan banyak pendukung ketika berdakwah, dan sebagainya. Yang demikian adalah contoh target jangka pendek yang dicita-citakan mu’min sebelum mencapai tujuan tertinggi, surga Allah di akhirat kelak.
Continue reading

​PENTINGNYA MEMILIKI GOAL

Sesi-sesi pertama dalam Grounded Business Coaching yang diselenggerakan oleh Doktor Imam Elfahmi, kami diajari pentingnya memiliki GOAL oleh Coach Ridwan Abadi. Dengan begitu gamblangnya, seorang coach Ridwan menjelaskan mengapa GOAL menjadi hal yang paling penting dalam gerak bisnis.

Salah satu guru Saya Kang Dewa Eka Prayoga juga mati-matian dalam mendidik dalam meraih GOAL. Sebuah tujuan harus jelas, clear, bisa diukur dan memiliki jadwal tertentu. GOAL harus kaku, cara meraihnya silakan fleskibel. Itu berkali-kali dia tekankan.
Perlahan hal ini Saya terapkan di skala unit bisnis KeKe Group yang baru : Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika dot com. Saya mulai membangun GOAL. Dan dampaknya alhamdulillah terasa luar biasa.
Mazhab gerak bisnis Saya sebelumnya adalah naturalis. Saya menghargai proses, mendahulukan harmonisasi gerak tim dan keberjalanan tanpa kontraksi. Dahulu, Saya menganggap GOAL adalah dampak dari proses yang baik. Namun Saya mulai mengoreksi diri dan kemudian menerapkannya secara tegas dan disiplin kelada tim.
Mari kita pelajari, mengapa membangun GOAL ini sangat penting.
1. GOAL adalah tujuan, tanpa tujuan, gerak bisnis hanya berputar-putar di lapangan.
GOAL merujuk pada GAWANG dalam permainan sepakbola. Sebuah permainan sepakbola menjadi hidup karena ada 22 orang yang berebut Bola untuk memasukkannya kedalam gawang. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang terjadi jika gawangnya tidak ada? Tentu semua pemain akan kehilangan arah dan tidak jelas bergeraknya. Yang ada lelah, namun tidak ada hasil.
Didalam bisnis juga sama, sebuah GOAL harus jelas dan terukur. Coach Ridwan bahkan mendidik kami agar memiliki GOAL yang berupa cash, bukan sekedar profit, omset, apalagi asset. GOAL bisnis haruslah hal yang paling mendasari gerak bisnis tersebut : meraih cash. Dan tidak hanya sampai disitu, raihan cash tersebut juga harus beriringan dengan sebuah waktu yang definitif.
2. GOAL menjadi acuan pengukuran dalam proses manajemen.
Sesuatu yang tidak bisa diukur maka tidak bisa diatur. Kredo ini harus melekat dalam benak setiap pebisnis. Jika Anda tidak memiliki ukuran pencapaian yang jelas dalam setiap bulannya, lalu bagaimana Anda menentukan apakah Anda meraih target atau tidak?
Ketika GOAL ada dan nyata, manajemen dapat mengukur performa dari gerak bisnisnya. Sudahkah kita meraih goal yang diinginkan, lalu ketika goal tercapai, aktivitas apa yang kemudian dapat berdampak mencipta raihan. Hal ini menjadi penting dan krusial.
GOAL ibarat parameter ukur yang tegas dan jelas. Ketika tidak tercapai, manajemen akan melakukan evaluasi, dan kita melewati target, manajemen tentu akan mempertahankan pola-pola yang terjadi.
3. GOAL membantu manajemen merancang aktovitas bisnisnya.
Misalnya Anda menginginkan raihan free cash di Bulan Oktober 2016 sebesar 20 juta. Jika Anda menargetkan 40% dari profit menjadi freecash, maka profit yang harus Anda cetak adalah 50 juta rupiah.
Jika margin net profit perdagangan anda adalah 20%, maka sales yang harus tercipta adalah 250 juta.
Jika 1 unit produk anda bernilai 500 ribu rupiah, maka target sales unit per bulan adalah 500 unit per bulan.
Jika bisnis Anda beroperasi selama 25 hari per bulan, maka per harinya, bisnis anda harus mencetak 20 unit sales per hari.
Jika konversi atas leads Anda 10%, artinya : dalam 10 orang yang berkunjung atau bertanya ujungnya hanya closing 1. Maka Anda harus menciptakan leads sebesar 200 per hari.
Jika tim sales Anda ada 5 orang, maka 1 orang mendapatkan KPI untuk mendatangkan 40 leads per hari.
Dan dari data leads tersebut, Anda akan dapat mengukur kembali, mana leads yang efektif menjadi hot market, apakah leads yang datang ke toko? Apakah leads yang datang ke web? Apakah leads yang tercipta dati telemarketing?
Sebuah aktivitas bisnis akan fokus dan jekas ketika GOAL awalnya jelas : 20 juta free cash per bulan untuk owner.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga beberapa tulisan kedepan, kita bisa mendalami masalah ini.
Rendy Saputra

CEO KeKe Busana

TAUJIH 9 – Ust. Abdul Azis Abdul Ro’uf, Lc: Mencari Figur Teladan

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam[68]:4)

Ketika iman kita semakin baik, tanpa terasa semakin banyak kebiasaan sehari-hari kita yang dipengaruhi oleh figur Rasulullah Saw yang kita cintai, kagumi, ikuti dan teladani. Figur seseorang dalam kadar tertentu biasanya sangat bermanfaat untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi dalam meraih suatu keinginan, termasuk untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Untuk itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
Continue reading

Taujih 8- Ust. Abdul Azis Abdul Rouf : Berdoalah Sebanyak-Banyaknya

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.’ ” (QS Al-Mu’min [40]: 60)

Berdoa adalah lambang rasa rendah diri dan ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah yang dapat menumbuhkan perasaan ubudiyah (penghambaan) kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw menjelaskan masalah ini dalam sebuah hadits: “Tidaklah di atas bumi ini seorang muslim berdoa kepada Allah, kecuali Allah akan memberinya tiga hal:
Continue reading